Lencana Wasiat Leluhur Chapter 1
Chapter 1
Menurut Briptu Lestari Pranata, tidak ada hal yang paling menyenangkan selain menjadi Polantas. Dia akan merasa sangat senang jika ada seseorang yang butuh bantuannya untuk menyebrang. Dia juga sangat tegas jika ada pengendara yang tidak tertib di jalanan.
Briptu Lestari berusia 23 tahun, dia adalah salah satu Polwan cantik yang terkenal di kota Lima Warna. Banyak orang yang mengaguminya, dari anak-anak sampai orang tua sekalipun. Bahkan, pacarnya yang juga seorang polisi itupun sangat mengagumi sosoknya.
Jam 9 pagi, Briptu Lestari masih sibuk mengatur lalu lintas bersama dua orang rekannya. Biasanya, pada jam seginilah dia menjadi sangat sibuk. Kendaraan padat, berlomba-lomba untuk segera tiba di tempat tujuan masing-masing.
Briptu Lestari bertugas tepat di dekat semak-semak di samping jalan raya. Tidak jauh dari tempatnya, ada tempat sampah yang disediakan oleh pemerintah. Di sanalah, seorang gembel sedang berdiri mengais-ngais sampah untuk mencari rongsokan. Briptu Lestari sempat memperhatikan gembel itu sebentar, lalu ia melanjutkan tugasnya.
Tiba-tiba, seekor ular berbisa mendekati Briptu Lestari, lalu mematuk kakinya.
"Aaaaaaakkkk..." Teriak Briptu Lestari kesakitan.
Banyak orang yang sedang berjalan menjadi kaget, lalu segera menghampiri Briptu Lestari.
Ular itu begitu selesai mematuk, malah langsung lari.
Setelah dicari di semak-semak, ular yang mematuk kaki Briptu Lestari pun berhasil ditemukan oleh beberapa orang di sekitar, bahkan berhasil dibunuh lalu dibuang.
Sedangkan Briptu Lestari masih kesakitan, rekan-rekannya yang berada di dekatnyapun langsung mendekatinya. Pacar Briptu Lestari yang bernama Briptu Toni juga kebetulan sedang bertugas di tempat yang sama. Jadi, diapun juga merasa sangat khawatir. Ada juga orang yang langsung menelpon ambulans. Tapi sayang, jika menunggu ambulans datang, takutnya bisa/racun di kaki itu akan langsung menyebar ke tubuh.
Melihat Briptu Lestari sangat kesakitan, salah satu orang yang mengerubunginya pun berkata,
"Cepat, sedot! Sebelum bisanya mengalir ke jantung,"
Orang-orang disana sangat khawatir, tapi tidak ada satupun yang berani mengikuti saran orang itu. Bahkan pacar Briptu Lestari juga tidak berani, dia terlihat sangat takut. Dia takut akan ikut keracunan karena menyedot bisa di kaki Briptu Lestari.
Saat tidak ada satupun orang yang mau menyedot bisa ular di kaki Briptu Lestari, tiba-tiba ada satu orang pemuda yang berjongkok mendekati kaki itu. Pemuda itu terlihat sedikit tampan, tapi wajahnya sangat kusam penuh debu. Pakaian pemuda itu juga sangat lusuh dan kotor seperti gembel. Di tangannya terdapat rajah bergambar naga yang melingkar dari punggung telapak tangannya hingga ke lengan. Ya, dialah gembel yang berdiri di dekat tempat sampah itu.
Melihat pemuda gembel itu berani, banyak orang yang bertanya-tanya. Siapakah si gembel ini? Tapi tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
Pemuda gembel itu menyedot bisa di kaki Briptu Lestari, lalu dibuang lewat mulutnya, disedot lagi, lalu dibuang lagi. Hal itu terus diulang oleh pemuda gembel itu, sampai ia benar-benar memastikan kalau bisa di kaki Briptu Lestari sudah habis.
Briptu Lestari berhasil selamat, walaupun kakinya masih terasa nyeri. Sedangkan pemuda gembel itu tiba-tiba ambruk, nafasnya tersengal-sengal, wajahnya juga tampak pucat. Semua orang menjadi panik, bahkan ada juga yang marah-marah karena ambulans belum juga datang.
Briptu Lestari juga ikut panik, melihat keadaan orang yang menolongnya sangat lemah. Dia berusaha membangunkan pemuda gembel itu, bahkan sampai mengabaikan rasa nyeri di kakinya.
Tapi, pemuda gembel itu tetap tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian, datanglah ambulans membawa Briptu Lestari dan pemuda gembel itu. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Ketika dalam perjalanan, tim medis berusaha melakukan pertolongan pertama kepada keduanya. Tapi sayang, kondisi pemuda gembel itu tetap tidak membaik.
Sesampainya di rumah sakit, Briptu Lestari dan pemuda gembel langsung dibawa ke ruang perawatan. Seluruh peralatan yang dibawa si pemuda gembel dilepaskan, lalu diamankan.
Di lorong rumah sakit, Dokter Pandi Wibowo, kepala rumah sakit di rumah sakit ini kebetulan sedang berjalan di lorong. Tiba-tiba, dia melihat seorang perawat sedang membawa sebuah lencana berukiran naga. Dokter Pandi merasa sangat tidak asing dengan lencana itu, diapun bertanya kepada si perawat,
"Tunggu suster, dari mana kamu mendapatkan benda itu?"
"Oh, ini milik pasien dok." Jawab si perawat sambil menunjukkan lencana naga itu.
Dokter Pandi pun menjadi sangat yakin dengan penglihatannya. Dia juga penasaran, siapa pasien yang memiliki lencana naga itu.
"Tolong tunjukkan, dimana pasien itu!" Perintahnya, lalu perawat itupun mengantarnya ke ruangan tempat si gembel itu dirawat.
Setelah melihat pemuda gembel pemilik lencana itu sebentar, dokter Pandi menjadi sangat yakin dengan seluruh perkiraan yang ada di otaknya. Diapun langsung memerintahkan kepada para perawat untuk memindahkan ruangan si gembel ke tempat yang lebih baik.
Siapakah gembel itu? Kenapa dia bisa memiliki lencana naga itu? Dan kenapa dokter Pandi Wibowo bisa mengenali lencana naga itu?
Chapter 1
Menurut Briptu Lestari Pranata, tidak ada hal yang paling menyenangkan selain menjadi Polantas. Dia akan merasa sangat senang jika ada seseorang yang butuh bantuannya untuk menyebrang. Dia juga sangat tegas jika ada pengendara yang tidak tertib di jalanan.
Briptu Lestari berusia 23 tahun, dia adalah salah satu Polwan cantik yang terkenal di kota Lima Warna. Banyak orang yang mengaguminya, dari anak-anak sampai orang tua sekalipun. Bahkan, pacarnya yang juga seorang polisi itupun sangat mengagumi sosoknya.
Jam 9 pagi, Briptu Lestari masih sibuk mengatur lalu lintas bersama dua orang rekannya. Biasanya, pada jam seginilah dia menjadi sangat sibuk. Kendaraan padat, berlomba-lomba untuk segera tiba di tempat tujuan masing-masing.
Briptu Lestari bertugas tepat di dekat semak-semak di samping jalan raya. Tidak jauh dari tempatnya, ada tempat sampah yang disediakan oleh pemerintah. Di sanalah, seorang gembel sedang berdiri mengais-ngais sampah untuk mencari rongsokan. Briptu Lestari sempat memperhatikan gembel itu sebentar, lalu ia melanjutkan tugasnya.
Tiba-tiba, seekor ular berbisa mendekati Briptu Lestari, lalu mematuk kakinya.
"Aaaaaaakkkk..." Teriak Briptu Lestari kesakitan.
Banyak orang yang sedang berjalan menjadi kaget, lalu segera menghampiri Briptu Lestari.
Ular itu begitu selesai mematuk, malah langsung lari.
Setelah dicari di semak-semak, ular yang mematuk kaki Briptu Lestari pun berhasil ditemukan oleh beberapa orang di sekitar, bahkan berhasil dibunuh lalu dibuang.
Sedangkan Briptu Lestari masih kesakitan, rekan-rekannya yang berada di dekatnyapun langsung mendekatinya. Pacar Briptu Lestari yang bernama Briptu Toni juga kebetulan sedang bertugas di tempat yang sama. Jadi, diapun juga merasa sangat khawatir. Ada juga orang yang langsung menelpon ambulans. Tapi sayang, jika menunggu ambulans datang, takutnya bisa/racun di kaki itu akan langsung menyebar ke tubuh.
Melihat Briptu Lestari sangat kesakitan, salah satu orang yang mengerubunginya pun berkata,
"Cepat, sedot! Sebelum bisanya mengalir ke jantung,"
Orang-orang disana sangat khawatir, tapi tidak ada satupun yang berani mengikuti saran orang itu. Bahkan pacar Briptu Lestari juga tidak berani, dia terlihat sangat takut. Dia takut akan ikut keracunan karena menyedot bisa di kaki Briptu Lestari.
Saat tidak ada satupun orang yang mau menyedot bisa ular di kaki Briptu Lestari, tiba-tiba ada satu orang pemuda yang berjongkok mendekati kaki itu. Pemuda itu terlihat sedikit tampan, tapi wajahnya sangat kusam penuh debu. Pakaian pemuda itu juga sangat lusuh dan kotor seperti gembel. Di tangannya terdapat rajah bergambar naga yang melingkar dari punggung telapak tangannya hingga ke lengan. Ya, dialah gembel yang berdiri di dekat tempat sampah itu.
Melihat pemuda gembel itu berani, banyak orang yang bertanya-tanya. Siapakah si gembel ini? Tapi tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
Pemuda gembel itu menyedot bisa di kaki Briptu Lestari, lalu dibuang lewat mulutnya, disedot lagi, lalu dibuang lagi. Hal itu terus diulang oleh pemuda gembel itu, sampai ia benar-benar memastikan kalau bisa di kaki Briptu Lestari sudah habis.
Briptu Lestari berhasil selamat, walaupun kakinya masih terasa nyeri. Sedangkan pemuda gembel itu tiba-tiba ambruk, nafasnya tersengal-sengal, wajahnya juga tampak pucat. Semua orang menjadi panik, bahkan ada juga yang marah-marah karena ambulans belum juga datang.
Briptu Lestari juga ikut panik, melihat keadaan orang yang menolongnya sangat lemah. Dia berusaha membangunkan pemuda gembel itu, bahkan sampai mengabaikan rasa nyeri di kakinya.
Tapi, pemuda gembel itu tetap tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian, datanglah ambulans membawa Briptu Lestari dan pemuda gembel itu. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Ketika dalam perjalanan, tim medis berusaha melakukan pertolongan pertama kepada keduanya. Tapi sayang, kondisi pemuda gembel itu tetap tidak membaik.
Sesampainya di rumah sakit, Briptu Lestari dan pemuda gembel langsung dibawa ke ruang perawatan. Seluruh peralatan yang dibawa si pemuda gembel dilepaskan, lalu diamankan.
Di lorong rumah sakit, Dokter Pandi Wibowo, kepala rumah sakit di rumah sakit ini kebetulan sedang berjalan di lorong. Tiba-tiba, dia melihat seorang perawat sedang membawa sebuah lencana berukiran naga. Dokter Pandi merasa sangat tidak asing dengan lencana itu, diapun bertanya kepada si perawat,
"Tunggu suster, dari mana kamu mendapatkan benda itu?"
"Oh, ini milik pasien dok." Jawab si perawat sambil menunjukkan lencana naga itu.
Dokter Pandi pun menjadi sangat yakin dengan penglihatannya. Dia juga penasaran, siapa pasien yang memiliki lencana naga itu.
"Tolong tunjukkan, dimana pasien itu!" Perintahnya, lalu perawat itupun mengantarnya ke ruangan tempat si gembel itu dirawat.
Setelah melihat pemuda gembel pemilik lencana itu sebentar, dokter Pandi menjadi sangat yakin dengan seluruh perkiraan yang ada di otaknya. Diapun langsung memerintahkan kepada para perawat untuk memindahkan ruangan si gembel ke tempat yang lebih baik.
Siapakah gembel itu? Kenapa dia bisa memiliki lencana naga itu? Dan kenapa dokter Pandi Wibowo bisa mengenali lencana naga itu?